BHIT Jual 350 Juta Saham IATA, Kantongi Rp22,76 Miliar! Kepemilikan Turun ke 7,81%
PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) menjual 350,3 juta saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) atau 1,12 persen kepemilikan melalui BEI dalam empat transaksi. Dari penjualan tersebut BHIT memperoleh dana Rp22,76 miliar sehingga kepemilikannya turun menjadi 7,81 persen. Saham IATA ditutup naik 1,66 persen di Rp60 pada 14 Juli 2026 meski tren mingguan masih negatif.
Transaksi penjualan saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) oleh BHIT (Foto:MNC)
Emitenhub.com - PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) mengurangi kepemilikan sahamnya di PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) dengan menjual 350.300.000 lembar saham atau setara 1,12 persen melalui Bursa Efek Indonesia.
Transaksi penjualan dilakukan BHIT dalam empat kali yakni pada 29 Mei 2026 serta 3, 10, dan 13 Juli 2026. Penjualan saham IATA dilakukan pada kisaran harga Rp60 hingga Rp65 per lembar sehingga BHIT memperoleh dana sekitar Rp22,76 miliar.
Berdasarkan laporan perubahan kepemilikan saham yang disampaikan manajemen ke BEI pada Selasa (14/7/2026), penjualan tersebut merupakan bagian dari rencana strategis perseroan terhadap emiten di sektor investasi dan pertambangan batubara.
Setelah transaksi penjualan tersebut, kepemilikan BHIT di IATA turun menjadi 2.443.810.566 unit atau setara 7,81 persen. Sebelumnya BHIT menguasai 2.794.110.566 unit atau 8,93 persen saham.
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026) di Bursa Efek Indonesia, saham IATA naik 1,66 persen menjadi Rp60 per unit dari Rp59 sehari sebelumnya. Sepanjang sepekan terakhir saham ini turun 3,22 persen. Dibandingkan penutupan 15 Juni 2026 di Rp65, saham IATA turun 7,69 persen.
PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) berperan sebagai perusahaan holding dan investasi dengan fokus utama pada sektor pertambangan batu bara. Melalui anak usaha PT Bhakti Coal Resources, operasional berpusat di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dengan beberapa IUP yang memproduksi batu bara kalori menengah. Perseroan juga tengah berekspansi ke sektor Energi Baru Terbarukan termasuk rencana pengembangan PLTS di Kalimantan Timur.


