Saham

Eni Lepas 10% Hak Partisipasi 7 Blok Migas ke PHE dan MEDC, Proyek US$17,4 Miliar Jadi Sorotan

Ringkasan Cepat

Eni S.p.A. menyepakati pelepasan 10% hak partisipasi pada tujuh wilayah kerja migas di Kalimantan Timur kepada Pertamina Hulu Energi (PHE) dan MedcoEnergi (MEDC). Praktisi migas menilai transaksi tersebut merupakan strategi berbagi risiko pengembangan lapangan gas laut dalam yang membutuhkan investasi besar. Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah Kutei North Hub dengan nilai pengembangan sekitar US$17,4 miliar.

• 5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi fasilitas produksi gas laut dalam di Kalimantan Timur terkait akuisisi hak partisipasi tujuh blok migas Eni oleh PHE dan MedcoEnergi (MEDC).

Ilustrasi fasilitas produksi gas laut dalam di Kalimantan Timur terkait akuisisi hak partisipasi tujuh blok migas Eni oleh PHE dan MedcoEnergi (MEDC). (Freepik)

Emitenhub.com - Pelepasan 10% hak partisipasi Eni S.p.A. di tujuh wilayah kerja migas Kalimantan Timur kepada PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai sebagai strategi berbagi risiko investasi. Pengembangan lapangan gas laut dalam membutuhkan pendanaan besar meskipun sebagian aset telah memasuki tahap produksi.

Praktisi senior industri minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo mengatakan keterlibatan mitra baru memungkinkan Eni membagi risiko pengembangan proyek, terutama pada wilayah kerja yang memiliki karakteristik operasi laut dalam atau deepwater.

Menurut Hadi, risiko investasi tidak hanya muncul dalam tahap eksplorasi. Proyek yang telah memasuki fase pengembangan juga masih menghadapi tantangan teknis dan kebutuhan pendanaan.

“Walaupun dalam tahap development, risiko di oil and gas selalu ada sehingga perlu kolaborasi, karena bagian dari pengembangan laut dalam,” ujar Hadi yang juga menjabat Direktur PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Selasa (13/10/2026).

Ia memperkirakan PHE dan MedcoEnergi harus menyiapkan dana besar untuk memperoleh hak partisipasi tersebut. Terlebih, Eni telah lebih dahulu melakukan pengembangan pada sejumlah aset yang menjadi objek transaksi.

Hadi menilai kondisi tersebut memberikan ruang bagi Eni untuk menetapkan harga akuisisi dengan premi tertentu. Namun, nilai transaksi yang disepakati dengan kedua perusahaan Indonesia belum diungkapkan dalam bahan yang tersedia.

Menurutnya, keputusan Eni melepas sebagian kepemilikan tidak dapat langsung dikaitkan dengan kondisi iklim investasi hulu migas Indonesia.

Ia membedakan transaksi pengalihan hak partisipasi sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan dengan persoalan yang memengaruhi investasi migas nasional secara keseluruhan.

Pertamina Ambil Hak Partisipasi Tiga Blok Migas Eni

Eni telah menandatangani kesepakatan pengalihan 10% hak partisipasi kepada PHE pada tiga wilayah kerja, yakni North Ganal, Rapak, dan East Sepinggan.

Melalui transaksi tersebut, PHE akan memiliki 10% hak partisipasi di North Ganal dan Rapak. Adapun kepemilikan di East Sepinggan meningkat dari sebelumnya 15% menjadi 25%.

Kesepakatan jual beli atau sales and purchase agreement (SPA) ditandatangani kedua perusahaan pada Oktober 2026.

Sebelum pengalihan, Eni tercatat memegang hak partisipasi sebesar 88,26% di North Ganal, 82% di Rapak, dan 95% di East Sepinggan.

Ketiga wilayah kerja tersebut mencakup aset dengan tahapan pengembangan berbeda. East Sepinggan memiliki lapangan gas Merakes dan East Merakes yang telah berproduksi, sedangkan North Ganal dan Rapak menjadi bagian dari pengembangan proyek gas Kutei North Hub.

Direktur Utama PHE Sunaryanto menyatakan akuisisi tersebut bertujuan memperkuat portofolio hulu migas perusahaan melalui kepemilikan aset dengan potensi sumber daya besar.

"Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi PHE untuk terus memperkuat portofolio hulu migas melalui investasi pada aset yang memiliki fundamental kuat, potensi sumber daya yang besar, serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan negara," kata Sunaryanto dalam siaran pers, Senin (12/10/2026).

Penambahan hak partisipasi juga membuka peluang keterlibatan PHE dalam pengembangan lapangan dan eksplorasi di Kalimantan Timur.

Selain memperluas portofolio aset, transaksi tersebut memberikan peluang sinergi dengan infrastruktur gas Pertamina yang telah beroperasi di wilayah tersebut, termasuk fasilitas PT Badak NGL.

PHE menempatkan pengembangan sumber daya gas tersebut sebagai salah satu bagian dari strategi pertumbuhan produksi jangka menengah dan panjang.

MedcoEnergi (MEDC) Masuk Empat Wilayah Kerja Cekungan Kutai

Dalam transaksi terpisah, Eni menyepakati penjualan 10% hak partisipasi non-operator kepada MedcoEnergi pada empat kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC).

Keempatnya adalah Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal yang berlokasi di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur.

Sebelum transaksi, Eni memiliki hak partisipasi sebesar 88,3% di Muara Bakau, 82% di Ganal, 70% di West Ganal, dan 100% di East Ganal.

Aset dalam kesepakatan tersebut mencakup lapangan yang telah berproduksi, proyek pengembangan, serta wilayah eksplorasi. Salah satu potensi yang menjadi bagian dari portofolio tersebut adalah penemuan gas Geliga.

CEO MedcoEnergi Ronald Gunawan mengatakan transaksi tersebut akan memperluas posisi perusahaan dalam rantai pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di Indonesia.

Menurut Ronald, kepemilikan aset yang sudah berproduksi dapat melengkapi proyek pengembangan gas berskala besar sekaligus memperkuat basis produksi jangka panjang perseroan.

Peluang eksplorasi di Cekungan Kutai juga menjadi salah satu pertimbangan MedcoEnergi dalam memperluas portofolio migas domestik.

Kesepakatan tersebut masih memerlukan pemenuhan persyaratan transaksi, termasuk persetujuan Pemerintah Indonesia, sebelum pengalihan hak partisipasi berlaku efektif.

Proyek Kutei North Hub Bernilai US$17,4 Miliar

Salah satu proyek utama yang berkaitan dengan akuisisi PHE adalah Kutei North Hub di Kalimantan Timur. Pengembangan tersebut mencakup Lapangan Geng North di wilayah kerja North Ganal serta Lapangan Gehem yang berkaitan dengan wilayah kerja Ganal dan Rapak.

Rencana pengembangan atau plan of development (PoD) proyek tersebut memiliki nilai sekitar US$17,4 miliar. Jumlah itu mencakup kebutuhan investasi dan biaya operasional untuk pengembangan lapangan gas laut dalam.

Dari total tersebut, biaya investasi di luar pengeluaran terdahulu atau sunk cost diperkirakan mencapai US$11,84 miliar.

Sementara itu, biaya operasional yang mencakup kewajiban abandonment and site restoration (ASR), pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak bumi dan bangunan (PBB) mencapai US$5,64 miliar.

Adapun pengeluaran terdahulu untuk wilayah kerja North Ganal dan Rapak tercatat sebesar US$859 juta.

Potensi pendapatan kotor atau gross revenue dari pengembangan tersebut diperkirakan mencapai US$39,45 miliar.

Secara teknis, Kutei North Hub dirancang mencakup pengeboran 16 sumur produksi pada wilayah laut dengan kedalaman perairan sekitar 1.700 hingga 2.000 meter.

Sumur-sumur tersebut akan dihubungkan dengan fasilitas produksi terapung baru atau floating production, storage and offloading (FPSO).

Fasilitas FPSO dirancang memiliki kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.

Skala pengembangan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan modal dan kompleksitas teknis proyek laut dalam. Kondisi ini menjadi salah satu dasar penilaian Hadi mengenai pentingnya kolaborasi dan pembagian risiko antarperusahaan migas.

Bagi PHE, penambahan hak partisipasi membuka ruang keterlibatan lebih besar dalam pengembangan gas Kutei North Hub. Sementara itu, MedcoEnergi memperoleh akses terhadap aset produksi dan proyek gas lainnya di Cekungan Kutai.

Penyelesaian kedua transaksi masih bergantung pada pemenuhan persyaratan dan persetujuan regulator. Nilai akuisisi yang harus dibayarkan PHE maupun MedcoEnergi juga belum diumumkan.

Iklan