Emitenhub.com - Indeks Nikkei 225 kembali tertekan pada perdagangan Selasa (13/10/2026) setelah libur pasar Jepang. Indeks saham utama Negeri Sakura tersebut dilaporkan merosot sekitar 2% hingga menembus ke bawah level 68.000, memperpanjang pelemahan menjadi empat sesi perdagangan berturut-turut.
Tekanan jual terutama berasal dari saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pelemahan tersebut mengikuti koreksi saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Kondisi ini turut menjadi perhatian investor di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Penurunan saham teknologi global dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, meskipun dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergantung pada kondisi perdagangan domestik.
Kekhawatiran pasar meningkat seiring besarnya kebutuhan investasi untuk pengembangan infrastruktur AI. Kenaikan biaya pinjaman global juga mendorong investor mengevaluasi kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan dari belanja modal yang terus meningkat.
CEO Broadcom Hock Tan menyoroti perilaku sebagian investor yang menempatkan dana pada sektor AI tanpa memahami secara memadai bisnis yang mereka danai.
Menurut Tan, lonjakan minat terhadap AI telah menarik investor dengan pendekatan spekulatif yang menyerupai perjudian. Penilaian tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kelayakan investasi dan prospek keuntungan industri AI.
Kekhawatiran serupa disampaikan miliarder sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio. Ia menilai lonjakan investasi AI memiliki karakteristik gelembung aset yang rentan mengalami koreksi ketika suku bunga meningkat dan investor mulai mencairkan kepemilikannya.
Saham Teknologi Jepang Tertekan, Kioxia hingga SoftBank Anjlok
Tekanan terhadap industri AI tercermin dari penurunan sejumlah saham teknologi utama di bursa Jepang.
Kioxia Holdings mencatat pelemahan terdalam sebesar 9,3%. Saham SoftBank Group menyusul dengan penurunan 7%, sedangkan Taiyo Yuden terkoreksi 5,6%.
Aksi jual juga menekan Advantest yang turun 5,3% dan Tokyo Electron sebesar 4,5%.
Penurunan tersebut terjadi ketika pelaku pasar semakin memperhatikan besarnya pengeluaran perusahaan untuk pengembangan teknologi AI dan pusat data. Kemampuan investasi tersebut menghasilkan pendapatan dan laba menjadi salah satu faktor dalam penilaian saham sektor teknologi.
Bagi investor Indonesia, koreksi saham teknologi Jepang menambah perhatian terhadap pergerakan pasar global. Saham-saham teknologi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga dapat menghadapi perubahan sentimen ketika investor mengurangi eksposur terhadap sektor berisiko tinggi.
Meski demikian, pelemahan saham AI di luar negeri tidak secara otomatis menunjukkan penurunan fundamental emiten teknologi domestik. Kondisi keuangan, valuasi, dan perkembangan bisnis masing-masing perusahaan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.


