Saham

Harga Gandum Meroket ke Level Tertinggi 3 Tahun, Margin ICBP, MYOR, INDF Terancam

Ringkasan Cepat

Harga gandum dunia melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun akibat gangguan pasokan di Laut Hitam menyusul memanasnya konflik Rusia-Ukraina, mengancam margin emiten konsumer ICBP, MYOR, dan INDF. Menurut Mirae Asset Sekuritas, dampak ke margin masih terbatas pada kuartal III/2026 berkat cadangan persediaan, tetapi mulai terasa pada kuartal IV/2026 dan memuncak pada kuartal I/2027, dengan ICBP dan MYOR paling terekspos serta INDF relatif terlindungi lewat skema harga Bogasari.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi lonjakan harga gandum dunia yang mengancam margin emiten konsumer ICBP, MYOR, dan INDF

Ilustrasi lonjakan harga gandum dunia yang mengancam margin emiten konsumer ICBP, MYOR, dan INDF (FOTO:Indofood)

Emitenhub.com - Harga gandum di pasar dunia melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun menyusul gangguan di Laut Hitam akibat memanasnya kembali konflik Rusia-Ukraina. Lonjakan biaya bagi emiten konsumer seperti ICBP, MYOR, dan INDF pun sudah di depan mata.

Harga gandum naik ke sekitar US$6,8 per gantang, melonjak 35% secara tahunan (year on year/YoY) dan 40% sejak akhir 2025. Pemicunya adalah kekeringan di Belahan Bumi Utara serta eskalasi serangan di Laut Hitam terhadap terminal dan pelabuhan gandum sejak Juli 2026.

Kondisi itu turut memengaruhi harga ekspor gandum Australia. Platts, bagian dari S&P Global Energy, mencatat harga Australian Standard White tanpa jaminan protein (ASW1) sebesar US$291 per metrik ton pada 24 Agustus 2026.

Angka ini naik US$25 per metrik ton sejak meningkatnya serangan pesawat nirawak terhadap pelayaran dan pelabuhan di Laut Hitam pada 6 Juli 2026. Data Platts menunjukkan harga tersebut merupakan level tertinggi untuk jenis gandum ini sejak 25 Juli 2023.

Harga Australian Premium White (APW) juga mencatat kenaikan serupa pada periode yang sama, yakni naik US$26 per metrik ton menjadi US$298 per metrik ton pada 24 Agustus 2026. Angka itu menjadi penilaian harga tertinggi untuk jenis ini sejak 12 Juni 2024.

Sejumlah sumber perdagangan di Asia menyatakan lonjakan harga ini mencerminkan kurangnya pasokan gandum dari Laut Hitam akibat gangguan logistik, serta beralihnya pembeli di Asia Tenggara ke kargo gandum Australia dalam peti kemas untuk pengiriman jangka pendek pada September dan Oktober 2026.

"Harga gandum Australia terus menguat, dan biaya angkut [dari Laut Hitam ke Asia Tenggara] juga telah melampaui $80 per metrik ton," ujar sumber dari perusahaan penggilingan gandum di Vietnam, melansir S&P.

Seorang pedagang biji-bijian yang berbasis di Singapura menyampaikan gandum Rusia sebenarnya masih bisa menjangkau pasar Asia melalui rute alternatif, tetapi secara ekonomi tak lagi menguntungkan.

"Harga pengiriman dari wilayah Baltik ke Asia Tenggara sama sekali tidak masuk akal," kata pedagang tersebut.

Meski harga sedang kuat, aktivitas penjualan oleh petani Australia tetap lesu. Penjualan mereka terbatas di tengah penantian hujan dalam tiga minggu menjelang masa panen pada September, sementara nilai tukar Dolar Australia yang menguat turut menopang harga ekspor.

Sumber dari perusahaan eksportir yang berbasis di Melbourne menyampaikan kapasitas ekspor jangka pendek sebagian besar sudah terpesan, dan pasokan gandum dari panen baru diperkirakan belum akan melonggarkan kondisi pasar hingga akhir kuartal keempat.

"Kapasitas untuk September dan Oktober sudah banyak terjual, tetapi pasokan dari panen baru seharusnya sudah tersedia pada bulan November," ujar eksportir tersebut.

Dampak ke ICBP, MYOR, dan INDF

Analis Mirae Asset Sekuritas Putu Chantika Putri mencatat eksposur langsung Indonesia ke Laut Hitam tergolong kecil, hanya 9% dari total impor gandum. Angka itu jauh di bawah Australia (42%), Kanada (22%), dan Argentina (13%).

Namun, peralihan pembeli ke sumber alternatif memperlebar selisih harga. Australian APW dengan protein 10,5% berada di sekitar US$284 per ton FOB, sementara gandum Rusia protein 12,5% di kisaran US$224 hingga US$227 per ton. Selisihnya mencapai US$59 per ton atau 26%, naik dari sekitar US$40 per ton pada akhir Juli 2026.

Risiko utama dari kondisi ini adalah kenaikan biaya penggantian, dengan pasokan fisik menjadi perhatian lebih besar bila gangguan berlanjut.

"Dampak margin diperkirakan terbatas di kuartal III/2026 dengan cakupan persediaan 2-3 bulan, mulai terasa dari kuartal IV/2026 dan memuncak di kuartal I/2027," kata Putu dalam catatannya, Rabu (26/8/2026).

Pada 2022, ketika harga gandum naik dari US$8,8 menjadi US$10,8 per gantang, gross profit margin (GPM) ICBP turun 4,8 poin persentase secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) menjadi 29,4%. Pada periode sama, GPM INDF turun 4,3 poin persentase ke 28,7% dan MYOR turun 2,2 poin persentase ke 19,6%.

Harga saat ini masih 35% di bawah puncak kuartal II/2022, yang mengindikasikan dampak lebih ringan. Bogasari sudah menaikkan harga tepung 3-4% pada semester I/2026, tetapi pembelian gandum yang bersifat oportunistik ketimbang hedging terstruktur membatasi penyangga saat biaya penggantian mulai terasa dari kuartal IV/2026.

Menurut Putu, ICBP dan MYOR paling terdampak karena tepung menyumbang 15% dan 10% dari cost of goods sold (COGS) atau harga pokok penjualan (HPP) masing-masing. Adapun pada INDF, porsinya hanya 9%, terendah di antara ketiganya.

Setiap kenaikan 5% biaya tepung memangkas GPM 2026 sekitar 0,5 poin persentase untuk ICBP, 0,4 poin persentase untuk MYOR, dan 0,6 poin persentase bagi INDF. Adapun labanya kemungkinan terpangkas masing-masing sekitar 2,8%, 3,6%, dan 1,8%.

"INDF paling terlindungi lewat cost-plus pricing Bogasari," ujarnya.

Mirae Asset mempertahankan rating neutral di sektor konsumer. Rapor kuartal II/2026 dinilai sesuai ekspektasi, tetapi katalis pada kuartal III/2026 tampak minim, terlebih dengan adanya gangguan biaya gandum.

Tekanan biaya gandum belum langsung memukul ICBP, MYOR, dan INDF selama persediaan mereka masih cukup untuk dua hingga tiga bulan ke depan. Ujiannya datang mulai kuartal IV/2026, saat ketiga produsen harus membeli gandum baru dengan harga yang sudah jauh lebih tinggi. Seberapa dalam margin mereka tergerus akan bergantung pada dua hal: sampai kapan konflik Laut Hitam mengganjal pasokan, dan seberapa longgar ruang mereka menaikkan harga produk tanpa kehilangan pembeli.

Iklan