PLTP Kamojang Cetak All Time High 3 Tahun Beruntun, Prospek Saham PGEO Makin Panas!
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kembali memanjakan investor dengan pencapaian operasional yang fenomenal. PLTP Kamojang sukses mencetak rekor produksi listrik tertinggi sepanjang masa (all time high) selama 3 tahun berturut-turut, menyentuh 1.806,41 GWh sepanjang 2025. Pencapaian ini menegaskan keandalan aset perseroan sekaligus memperkokoh profil ESG perusahaan. Dengan target ambisius peningkatan kapasitas hingga 3 GW di masa depan dan inovasi berkelanjutan.
PLTP Kamojang milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang sukses mencetak rekor produksi listrik all time high tiga tahun berturut-turut. (Foto PGEO)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kembali menorehkan prestasi gemilang melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Fasilitas energi hijau andalan perseroan ini sukses mencetak rekor produksi listrik tertinggi sepanjang masa (all time high) selama tiga tahun berturut-turut. Kinerja luar biasa ini mengukuhkan posisi PLTP Kamojang sebagai tulang punggung utama dalam portofolio energi terbarukan perusahaan.
Sepanjang tahun buku 2025, operasional Area Kamojang berhasil memproduksi pasokan listrik hingga menembus angka 1.806,41 gigawatt hour (GWh). Capaian tersebut merepresentasikan pertumbuhan yang stabil sebesar 1,23 persen secara tahunan (year-on-year). Catatan impresif ini sekaligus menjadi volume produksi tertinggi dibandingkan seluruh Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola oleh PGEO saat ini.
Melalui pengoperasian lima unit pembangkit, PLTP Kamojang kini mengelola total kapasitas terpasang yang mencapai 235 megawatt (MW). Kapasitas operasional yang masif tersebut terbukti secara konsisten mampu mendistribusikan aliran listrik hijau yang stabil. Kehadiran pembangkit ini diklaim berhasil menerangi dan memenuhi kebutuhan energi bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap harinya.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, turut menyoroti rekam jejak historis operasional di area tersebut. Menurutnya, perjalanan pemanfaatan panas bumi di Kamojang menjadi bukti sahih bahwa energi bersih mampu bertransformasi menjadi fondasi utama bagi ketahanan energi nasional. Pada saat yang sama, operasional pembangkit ini dinilai sukses memberikan efek ganda yang membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas.
"Panas bumi menjadi salah satu bukti nyata perjalanan panjang energi bersih Indonesia. Potensinya yang ditemukan di Kamojang pada 1926 kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh Pertamina melalui operasional PLTP Kamojang sejak 1983," papar Baron dalam keterangan tertulisnya pada Senin (29/6/2026).
Eksistensi historis PLTP Kamojang tidak hanya merepresentasikan keandalan teknologi ramah lingkungan perseroan. Hal ini sekaligus merefleksikan komitmen jangka panjang Grup Pertamina dalam memelopori dan mengawal ketat agenda transisi energi terbarukan di Tanah Air.
Baron menambahkan, pada era awal pengembangan tersebut, dominasi energi fosil masih sangat kuat sebagai sumber energi utama masyarakat. Meski demikian, langkah visioner Pertamina kala itu berhasil meletakkan fondasi energi terbarukan yang kokoh. Saat ini, investasi jangka panjang tersebut terbukti sukses menyuplai pasokan listrik yang andal, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Baron menekankan peran vital panas bumi sebagai baseload atau beban dasar kelistrikan hijau di Tanah Air. Karakteristik pasokan yang stabil memosisikan sektor ini sebagai sumber energi strategis. Kehadirannya sangat krusial dalam upaya mendongkrak porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional.
"Berperan sebagai baseload energi bersih, panas bumi menjadi sumber energi strategis untuk meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi nasional. Hal ini merupakan salah satu bagian dari strategi pertumbuhan ganda Pertamina," pungkas Baron.
Manuver bisnis pada sektor panas bumi ini sejalan dengan implementasi strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy) yang tengah diakselerasi oleh Grup Pertamina guna mengamankan ketahanan energi masa depan.
Keandalan operasional PLTP Kamojang tidak hanya mengamankan pasokan listrik, melainkan turut memperkokoh agenda transisi energi skala nasional. Fasilitas ramah lingkungan ini terbukti sukses mereduksi jejak emisi karbon hingga mencapai 1,22 juta ton CO₂ setiap tahunnya. Kontribusi signifikan ini menjadi wujud nyata dukungan perseroan terhadap percepatan pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060 mendatang.
Di luar perannya sebagai tulang punggung pasokan energi bersih, rekam jejak panjang operasional panas bumi di Kamojang juga menghadirkan efek rambat positif dari sisi sosial dan ekonomi. Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, Manda Wijaya Kusuma, menegaskan komitmen perseroan terhadap pemberdayaan warga sekitar. Menurutnya, ekspansi pemanfaatan energi panas bumi mutlak harus berjalan beriringan dengan upaya eskalasi kesejahteraan masyarakat yang berada di wilayah operasi perusahaan.
Menyambung komitmen tersebut, Manda menuturkan bahwa rentetan pencapaian historis ini makin memacu semangat manajemen PGEO untuk memaksimalkan pengelolaan aset perseroan. Tingginya tingkat keandalan pembangkit merupakan buah dari kedisiplinan ketat dalam menjaga aspek operasi, keselamatan kerja, perawatan aset, hingga integritas di seluruh rantai proses bisnis.
"Hal ini menunjukkan bahwa panas bumi dapat terus menjadi sumber energi bersih yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan Indonesia," urai Manda.
Melintasi usia satu abad sejak pertama kali digali potensinya, area Kamojang tak henti bertransformasi guna mewariskan keberlanjutan energi hijau bagi generasi mendatang. Menyandang status sebagai fasilitas panas bumi komersial tertua di Tanah Air yang beroperasi sejak 1983, PGEO Area Kamojang terus memacu beragam inovasi. Langkah strategis ini senantiasa digenjot demi mempertahankan keandalan aset operasional sekaligus mengoptimalkan ekstraksi potensi panas bumi yang akan bermuara pada penguatan fundamental bisnis perseroan ke depan.
Sebagai langkah konkret dalam memaksimalkan potensi yang ada, perseroan tengah mengembangkan teknologi pemanfaatan uap dari sumur-sumur bertekanan rendah (low-pressure steam). Inovasi strategis ini ditargetkan mampu menyumbang tambahan kapasitas listrik sebesar 5 megawatt (MW) pada tahun 2028 mendatang. Menariknya, terobosan ini dapat dieksekusi tanpa memerlukan pembukaan lahan baru maupun tahapan pengeboran sumur tambahan. Langkah efisiensi tersebut menegaskan komitmen PGEO dalam mendongkrak utilitas aset secara optimal sekaligus ramah lingkungan.
Optimalisasi operasional di Area Kamojang ini juga terintegrasi langsung dengan cetak biru ekspansi panas bumi PGEO di berbagai wilayah operasi lainnya. Melalui eksekusi sejumlah proyek quick win serta inisiatif penambahan kapasitas terpasang, perseroan telah mematok target pertumbuhan bisnis yang agresif.
Manajemen membidik peningkatan total kapasitas terpasang hingga menyentuh level 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028. Ekspansi portofolio energi hijau ini diproyeksikan akan terus berlanjut hingga menembus angka 1,8 GW pada 2033, sejalan dengan visi ambisius jangka panjang perseroan untuk mencapai kapasitas monumental sebesar 3 GW di masa depan. Tentu saja, peta jalan ekspansi ini akan menjadi sentimen positif yang terus dicermati oleh para pelaku pasar.
Lebih jauh lagi, dampak positif dari operasional PGEO di Kamojang rupanya tidak terbatas pada ekosistem kelistrikan semata. Perseroan turut mengakselerasi program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan energi terbarukan di sektor riil. Salah satu wujud nyata dari inisiatif pelibatan ekonomi lokal ini menyasar sektor pertanian, khususnya pada pengembangan komoditas kopi andalan daerah setempat.
Dengan mengimplementasikan metode pemanfaatan langsung (direct use) dari energi panas bumi, PGEO Area Kamojang sukses melahirkan inovasi Geothermal Dry House. Fasilitas hulu pertanian ini secara signifikan membantu para petani dalam mempercepat dan mengefisienkan proses pengeringan biji kopi sekaligus menjaga standar kualitas panen.
"Dari Kamojang, panas bumi terus menghadirkan manfaat bagi ketahanan energi, percepatan transisi energi, pertumbuhan ekonomi lokal, dan keberlanjutan Indonesia," tutup Manda.
Rentetan inisiatif berkelanjutan dari emiten energi hijau ini tidak hanya mengokohkan fundamental bisnis operasional, tetapi juga terbukti makin memperkuat profil Environmental, Social, and Governance (ESG) perseroan yang kini menjadi sorotan utama para investor di pasar modal.


