Deretan Emiten Ramai Akuisisi, Saham Mana Paling Menarik Dicermati?
Sejumlah emiten menyiapkan aksi akuisisi untuk memperbesar aset dan memperkuat pendapatan jangka panjang. Langkah ini mencakup sektor tambang, ritel, perikanan, hingga manufaktur baja, dengan skema pendanaan yang beragam.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan melemah di tengah volatilitas pasar
Emitenhub.com - Sejumlah emiten tercatat menyiapkan langkah akuisisi sebagai bagian dari strategi memperbesar aset sekaligus memperkuat sumber pendapatan jangka panjang. Aksi korporasi ini dipandang sebagai upaya memperluas skala usaha serta meningkatkan daya saing di tengah dinamika bisnis yang semakin kompetitif.
Berdasarkan kompilasi data, beberapa emiten yang merencanakan aksi akuisisi antara lain PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA), PT Multitrend Indo Tbk. (BABY), PT Techno9 Indonesia Tbk. (NINE), dan PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT). Rencana tersebut mencerminkan pendekatan ekspansif yang ditempuh emiten lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Di sisi lain, emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), telah merealisasikan langkah akuisisi strategis melalui pengambilalihan jaringan stasiun pengisian bahan bakar Esso milik ExxonMobil di Singapura. Akuisisi ini menegaskan peran aksi korporasi sebagai instrumen penting dalam memperluas portofolio dan memperkuat posisi bisnis di kawasan regional.
Manajemen PT Techno9 Indonesia Tbk. (NINE) menyampaikan perkembangan terbaru terkait rencana akuisisi aset pertambangan mineral milik Poh Group yang berlokasi di Mongolia. Aset tersebut dimiliki melalui entitas Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR).
Direktur Utama NINE, Nuzwan Gufron, menjelaskan bahwa PGGR merupakan entitas yang terafiliasi dengan Poh Group melalui pemegang saham pengendali yang sama, yakni Poh Kay Ping. PGGR tercatat memiliki kepemilikan penuh atas dua konsesi pertambangan di Mongolia.
Nuzwan juga menyampaikan bahwa PT Techno9 Indonesia Tbk. telah menandatangani perjanjian opsi untuk membeli aset-aset pertambangan di Mongolia yang dimiliki oleh PGGR. Langkah ini menjadi bagian dari penjajakan ekspansi NINE ke sektor pertambangan mineral melalui aksi akuisisi.
Namun demikian, realisasi pelaksanaan opsi tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan. Ketentuan tersebut meliputi persetujuan pemegang saham, persetujuan regulator termasuk Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, pelaksanaan penilaian independen oleh dua penilai dari Indonesia dan Australia, kepatuhan terhadap seluruh ketentuan peraturan yang berlaku, serta penandatanganan dokumen transaksi yang bersifat definitif.
Lebih lanjut, Nuzwan menyampaikan bahwa PGGR bersama entitas-entitas terafiliasinya tengah melanjutkan proses negosiasi terkait rencana kerja sama operasi dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia. Kerja sama tersebut mencakup perusahaan yang memiliki izin usaha pertambangan yang sah, dengan portofolio komoditas antara lain emas, batu bara, timah, dan bauksit.
Ke depan, perseroan menyatakan akan terus melakukan penjajakan serta pengembangan berbagai peluang usaha, baik di dalam negeri maupun di kawasan regional, sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.
Beberapa Emiten yang Berencana Melakukan Akuisisi 2026
Emiten | Keterangan |
|---|---|
NINE | Akuisisi aset pertambangan Poh Groud di Mongolia |
BABY | Mengambil alih saham PT Emway Globalindo |
TPIA | Akusisi SPBU Esso |
MEJA | Akuisisi perusahaan batu bara PT Trimata Coal Perkasa |
MKNT | Akuisisi perusahaan sektor budidaya udang dan manufaktur baja |
Masih dari sektor pertambangan, PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) tengah menyiapkan langkah strategis melalui rencana akuisisi saham perusahaan batu bara PT Trimata Coal Perkasa. Aksi ini menjadi bagian dari upaya ekspansi untuk memperkuat struktur aset dan basis pendapatan perseroan.
Rencana tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian bersyarat antara pemegang saham pengendali MEJA, PT Triple Berkah Bersama (Triple B), dengan pemegang saham pengendali PT Trimata Coal Perkasa. Kesepakatan awal ini membuka jalan bagi proses akuisisi yang akan dijalankan secara bertahap.
Direktur Triple B, Noprian Fadli, menyampaikan bahwa rencana akuisisi tersebut merupakan wujud komitmen pemegang saham pengendali dalam memperkuat fondasi usaha serta mendorong pengembangan bisnis MEJA ke depan.
Dalam perjanjian bersyarat tersebut, nilai akuisisi atas 45% saham pengendali PT Trimata Coal Perkasa disepakati sebesar Rp1,6 triliun. Nilai transaksi tersebut akan direalisasikan melalui beberapa tahapan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati para pihak.
Saham yang akan diakuisisi tersebut memiliki hak suara yang memenuhi ketentuan, sehingga MEJA nantinya akan berstatus sebagai pemegang saham pengendali di PT Trimata Coal Perkasa. Struktur kepemilikan ini membuka ruang konsolidasi penuh atas aset dan kinerja operasional entitas yang diakuisisi.
PT Trimata Coal Perkasa tercatat memiliki aset batu bara berskala besar di Sumatera Selatan dengan luas wilayah konsesi sekitar 11.640 hektare. Mengacu pada laporan JORC yang disusun oleh konsultan independen Faan Grobelaar & Associates, perusahaan ini memiliki estimasi sumber daya batu bara tertambang (mineable coal resources) sekitar 693,7 juta ton, dengan mayoritas memiliki nilai kalori di atas 5.000 kkal/kg.
Dari sisi operasional, PT Trimata Coal Perkasa juga telah mengantongi persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) IUP Operasi Produksi dari instansi berwenang. Persetujuan tersebut mencakup izin produksi batu bara untuk periode 2024–2026 dengan total volume mencapai 2,6 juta ton.
Sementara itu, PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) menyiapkan langkah pendanaan melalui penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue. Aksi korporasi ini ditujukan untuk membiayai rencana pengambilalihan PT Emway Globalindo (EGI) dengan nilai total akuisisi sebesar Rp269,99 miliar.
Perseroan menjelaskan bahwa rights issue tersebut menjadi bagian penting dari strategi akuisisi EGI. Pengambilalihan akan dilakukan melalui dua skema, yakni penyetoran modal dalam bentuk selain uang berupa inbreng saham, serta pembelian saham secara langsung.
Manajemen BABY menyampaikan bahwa pelaksanaan pembelian saham akan dilakukan setelah perseroan menyelesaikan PMHMETD I. Proses tersebut selanjutnya akan diikuti dengan realisasi rencana inbreng, sesuai dengan struktur transaksi yang telah disusun.
Sehubungan dengan rencana tersebut, BABY akan meminta persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) serta RUPS independen. Persetujuan ini menjadi prasyarat utama sebelum perseroan merealisasikan rangkaian aksi korporasi yang telah direncanakan.
Di sisi lain, PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT) memperoleh fasilitas pinjaman tanpa bunga dengan nilai total Rp822,93 miliar dari dua entitas, yakni PT Mantra Capital Persada (MCP) dan PT Headwell Bintang Energi Hijau (HBEH). Pendanaan tersebut disiapkan untuk mendukung ekspansi melalui akuisisi di sektor yang berbeda.
Dalam rencana tersebut, MKNT akan mengakuisisi 99,99% saham PT Radja Udang Malingping (RUM) senilai Rp154,93 miliar dari PT Mazon Bumi Mining. RUM merupakan perusahaan yang bergerak di bidang budidaya udang, sehingga membuka peluang diversifikasi ke sektor perikanan.
Selain itu, MKNT juga berencana mengakuisisi 99,99% saham PT Citra Baru Steel (CBS) dengan nilai transaksi Rp668 miliar dari Headwell Investment Limited. CBS bergerak di bidang manufaktur baja untuk kebutuhan infrastruktur, yang diharapkan dapat memperluas basis pendapatan dan eksposur bisnis MKNT ke sektor industri dasar.


