AADI Berpotensi Tebar Dividen Spesial 15%, Broker Tetap Rekomendasikan Beli
Potensi dividen spesial AADI kembali menjadi sorotan setelah penjualan saham di Kestrel Coal Group senilai hingga USD2,4 miliar terus menunjukkan progres positif. Sejumlah broker menilai dana hasil divestasi berpeluang dibagikan kepada pemegang saham dengan potensi yield sekitar 15%.
Potensi dividen spesial AADI setelah penjualan saham Kestrel Coal Group senilai USD2,4 miliar (Foto:AADI)
Emitenhub.com - Potensi pembagian dividen spesial PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah rencana divestasi aset tambang di Australia menunjukkan perkembangan yang positif.
Analis UOB Kay Hian dalam riset yang dikutip Dow Jones Newswires, Selasa (9/6/2026), menyebut proses penjualan 47,99% saham AADI di Kestrel Coal Group dengan nilai transaksi hingga USD2,4 miliar berpotensi rampung pada kuartal I 2027. Dana hasil transaksi tersebut dinilai dapat membuka peluang pembagian dividen spesial kepada pemegang saham.
Meski demikian, UOB Kay Hian menurunkan proyeksi laba AADI tahun 2026 sebesar 10,1% akibat meningkatnya biaya operasional, terutama yang berasal dari kenaikan harga bahan bakar.
Sejalan dengan revisi tersebut, broker itu memangkas target harga saham AADI menjadi Rp10.900 per saham dari sebelumnya Rp13.000. Namun, rekomendasi beli (buy) tetap dipertahankan.
Potensi dividen spesial AADI sebelumnya juga telah menjadi perhatian Citi. Dalam riset yang dirilis pada April 2026 dan dikutip Dow Jones Newswires, analis Citi Ryan Davis menyebut AADI berpeluang membagikan dividen spesial setelah menyelesaikan penjualan aset Kestrel kepada Yancoal Australia.
Menurut Citi, posisi kas bersih AADI pada akhir 2025 dinilai cukup kuat untuk membuka peluang pembagian sebagian besar dana hasil divestasi kepada pemegang saham.
Broker tersebut bahkan memperkirakan potensi dividen spesial yang dapat dibagikan mencapai sekitar 15%.
Setelah melepas kepemilikan di Kestrel Coal Group, AADI diperkirakan dapat lebih fokus mengembangkan bisnis inti batu bara termal yang menjadi sumber pendapatan utama Perseroan.
Sementara itu, eksposur Grup Adaro terhadap bisnis batu bara metalurgi dan pengembangan hilirisasi mineral akan ditopang oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Di pasar reguler, saham AADI ditutup stagnan di level Rp7.475 per saham. Sejak awal tahun 2026, saham emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi "Boy" Thohir tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 6,81%, meski sempat terdampak tekanan yang melanda pasar saham secara luas.
Sebelumnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga telah memberikan tanggapan terkait rencana penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) serta pembentukan BUMN Ekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Manajemen ADRO menyatakan belum dapat menilai dampak kebijakan tersebut terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha Perseroan karena regulasi yang dimaksud hingga kini belum resmi diterbitkan.
"Serta perseroan juga belum bisa menilai dampak serta implikasi terhadap perjanjian-perjanjian yang ada dengan pelanggan maupun pihak pemberi pembiayaan, risiko hukum, serta aspek lainnya," ujar Sekretaris Perusahaan ADRO, Maharani Cindy Opssedha, dalam keterbukaan informasi kepada BEI pada Jumat (29/5/2026).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh manajemen AADI. Perseroan mengaku masih belum dapat mengukur dampak maupun implikasi dari kebijakan tersebut dan akan memberikan informasi lebih lanjut apabila regulasi telah resmi diterbitkan serta mulai diterapkan.


