IHSG Rawan Melemah di Mei, Pola Sell in May Sudah Terjadi Lebih Awal Tahun Ini
Pola musiman menunjukkan IHSG cenderung melemah di bulan Mei dengan probabilitas naik hanya 30 persen dalam 10 tahun terakhir. Tahun ini tekanan sudah datang lebih awal dengan penurunan 19,55% YTD ke level 6.956. Pasar kini menanti katalis reformasi pasar modal dan keputusan MSCI pada Juni 2026.
BEI yang terancam mengalami penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market berdasarkan tinjauan indeks MSCI 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung melemah pada bulan Mei berdasarkan pola musiman. Tekanan tersebut bahkan sudah muncul lebih awal sepanjang tahun ini.
Dalam 10 tahun terakhir (2016–2025), rata-rata kinerja IHSG di bulan Mei tercatat minus 0,67 persen. Indeks hanya naik sebanyak tiga kali dan turun tujuh kali, sehingga probabilitas penguatan hanya sekitar 30 persen — yang terendah dibandingkan bulan lainnya.
Pola ini sejalan dengan fenomena global “Sell in May and go away”. Investor kerap melakukan aksi ambil untung setelah reli awal tahun dan beralih ke sikap lebih defensif.
Dalam banyak kasus, bulan Mei kerap menjadi awal pelemahan di pasar saham.
Tahun ini pola tersebut berbeda. IHSG sudah lebih dulu mengalami koreksi cukup dalam, turun 19,55 persen secara year-to-date dan berada di level 6.956,80 per Kamis (30/4/2026). Tekanan yang biasanya muncul di Mei justru telah terjadi lebih cepat.
Salah satu pemicu utama adalah sorotan MSCI terhadap investability pasar Indonesia, khususnya soal transparansi dan struktur kepemilikan saham.
Isu tersebut sempat memicu kekhawatiran investor asing dan berpotensi menghambat aliran dana masuk. Otoritas pasar merespons dengan mendorong peningkatan keterbukaan informasi serta perbaikan struktur free float.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran semakin menambah tekanan pada pasar saham domestik.
Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor beralih ke aset aman. Sentimen negatif juga datang dari pelemahan rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang masa di kisaran Rp17.370 per USD.
Kondisi ini memperburuk sentimen terhadap aset berisiko di pasar Indonesia dan meningkatkan potensi outflow dana asing.
Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, pola “Sell in May” tahun ini terasa kurang relevan dalam bentuk klasik. Alih-alih menjadi pemicu koreksi, Mei justru datang setelah IHSG sudah mengalami penurunan tajam sejak awal tahun.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran semakin menambah tekanan pada pasar saham domestik.
Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor beralih ke aset aman. Sentimen negatif juga datang dari pelemahan rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang masa di kisaran Rp17.370 per USD.
Kondisi ini memperburuk sentimen terhadap aset berisiko di pasar Indonesia dan meningkatkan potensi outflow dana asing.
Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, pola “Sell in May” tahun ini terasa kurang relevan dalam bentuk klasik. Alih-alih menjadi pemicu koreksi, Mei justru datang setelah IHSG sudah mengalami penurunan tajam sejak awal tahun.
Pelaku pasar kini mencermati apakah Mei akan melanjutkan tekanan atau justru membuka peluang stabilisasi. Hal ini sangat tergantung pada meredanya sentimen global dan respons positif terhadap berbagai langkah reformasi pasar modal.
Menurut CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), ada beberapa katalis penting yang harus dipantau dalam waktu dekat. Antara lain rilis data kepemilikan saham di atas 1 persen pada awal Mei dan Juni, pengumuman FTSE pada 22 Mei, serta publikasi data free float MSCI.
Data free float bulanan MSCI pada awal Mei akan menjadi indikator awal arah kebijakan. Sementara potensi penyesuaian bobot saham diperkirakan muncul pada review kuartalan MSCI tanggal 12 Mei 2026.
CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menilai keputusan MSCI memperpanjang evaluasi status pasar Indonesia hingga Juni 2026 masih menjaga ketidakpastian di pasar. Risiko penurunan bobot (downweight) dan arus dana keluar (outflow) pun masih membayangi.
Analis CGSI, Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana, dalam riset tertanggal 21 April 2026 menyebut MSCI saat ini berada dalam fase “menunggu” sambil mengumpulkan masukan dari pelaku pasar atas berbagai reformasi yang dilakukan Indonesia. Selama periode tersebut, MSCI membekukan beberapa aksi, termasuk penambahan saham baru, peningkatan status, serta penyesuaian free float. Keputusan final diperkirakan diumumkan pada pekan ketiga atau keempat Juni 2026.
Disclaimer: Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor.


