Direksi BBCA Borong Saham Rp22 Miliar Saat Harga Tertekan – Ini Sinyal Rebound?
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus tertekan di Rp6.425 meski IHSG menguat. Namun direksi justru agresif borong saham senilai total Rp22 miliar di Triwulan I-2026. Pengamat Rendy Yefta menyebut ini strategi buy on weakness dan sinyal kuat bahwa saham BBCA sedang “salah harga” dengan valuasi PER hanya 15x, jauh di bawah ARTO yang mencapai 64x.
Direksi BBCA Borong Saham Rp22 Miliar Saat Harga Saham Tertekan – Sinyal Rebound Kencang (Foto:BBCA)
Emitenhub.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus menjadi sorotan pelaku pasar. Harga sahamnya masih tertekan meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren penguatan.
Dulu BBCA kerap disebut investor darling. Saham perbankan ini hampir selalu menjadi incaran ketika harganya sedikit melemah.
Harga saham BBCA ditutup di Rp6.425 per lembar pada Jumat (17/6/2026). Angka itu turun 18,41 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Enam bulan lalu, tepat pada 5 November 2025, saham BBCA pernah mencapai Rp8.700 per lembar. Bahkan setahun lalu, pada 21 Mei 2025, harga sempat menyentuh Rp9.700 per lembar.
Pengamat Pasar Modal Rendy Yefta menilai direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap konsisten membeli saham perseroan di tengah tekanan jual yang berlangsung. Ia menyebut langkah tersebut sebagai sikap agresif petinggi BBCA di tengah fluktuasi pasar.
Berdasarkan data Triwulan I-2026, Presiden Direktur Hendra Lembong tercatat membeli saham BBCA senilai Rp7,93 miliar.
Wakil Presiden Direktur John Kosasih mengakumulasi saham hingga Rp4,37 miliar pada Maret 2026. Direktur Keuangan Vera Eve Lim juga menambah kepemilikan senilai Rp3,84 miliar di periode yang sama.
Direktur Manajerial Frenkie Chandra mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar. Direktur Santoso dan Lianawaty masing-masing membeli saham BBCA senilai Rp3,46 miliar dan Rp2,1 miliar.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebut aksi pembelian saham oleh direksi BBCA bukan langkah biasa. Ia menilai ini sebagai strategi buy on weakness, yaitu membeli aset premium saat harganya sedang tertekan. Menurut Rendy, hal ini menunjukkan keyakinan tinggi manajemen terhadap prospek jangka panjang perseroan.
Keyakinan tersebut selaras dengan valuasi saham BBCA saat ini. Menggunakan pendekatan Price Earning Ratio (PER), saham BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran 15 kali.
Artinya, investor hanya membayar 15 kali laba tahunan untuk memiliki bank terbesar dan paling efisien di Indonesia.
PER BBCA jauh lebih rendah dibandingkan saham ARTO yang mencapai 64 kali. Investor harus membayar hampir empat kali lipat lebih mahal untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan ARTO dibandingkan BBCA.
Rendy Yefta menyoroti perbedaan kemampuan mencetak laba antara BBCA dan ARTO. Menurutnya BBCA telah membuktikan diri mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan tumbuh cepat.
BBCA juga berpotensi memperbesar laba lebih cepat dibanding ARTO. Alasannya basis bisnis BBCA sudah besar, jaringan luas, CASA dominan, serta profit yang terus naik setiap tahun.
Rendy menilai fenomena yang terjadi pada saham BBCA saat ini adalah salah harga. Pasar seolah memberikan diskon besar pada saham bank yang memiliki potensi fundamental sangat kuat.
Dengan ketimpangan valuasi itu, Rendy melihat peluang valuasi BBCA akan kembali ke level yang lebih wajar. Manajemen BBCA sedang menunggu momen tersebut dengan terus memborong saham sendiri.
“Mereka sedang pasang kuda-kuda untuk menyambut rebound kencang,” ujar Rendy. Membeli saham BBCA saat ini, menurutnya, seperti membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual dengan diskon besar-besaran.


