Prospek Saham BWPT Makin Terbuka Usai Restrukturisasi Utang dan Perombakan Manajemen
PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) melakukan perombakan manajemen dan restrukturisasi keuangan yang berpotensi membuka nilai perusahaan. Penurunan utang, perbaikan operasional, serta penguatan aspek keberlanjutan menjadi fondasi prospek jangka menengah hingga panjang emiten sawit ini.
Prospek saham BWPT usai restrukturisasi dan perbaikan fundamental (Foto:BWPT)
Emitenhub.com - PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) melakukan perombakan jajaran pengurus disertai upaya perbaikan fundamental keuangan yang dinilai berpotensi membuka nilai perusahaan secara signifikan. Langkah ini menandai perubahan arah strategis emiten perkebunan kelapa sawit tersebut.
Dalam risetnya, Samuel Sekuritas menyebut restrukturisasi neraca serta penguatan operasional sebagai pendorong utama prospek BWPT untuk jangka menengah hingga panjang. Pendekatan ini ditempatkan sebagai fondasi perbaikan kinerja berkelanjutan perseroan.
Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 7 Januari, BWPT resmi menunjuk jajaran manajemen baru. Susunan tersebut mencakup dua komisaris yang berasal dari FELDA serta satu komisaris independen.
Pergantian manajemen ini menandai awal fase deleveraging dan kuasi-reorganisasi. Fokus utama diarahkan pada pembenahan struktur permodalan serta upaya pemulihan kinerja keuangan perseroan.
BWPT turut membidik penurunan utang berbunga dari Rp4,4 triliun pada 2024 menjadi Rp2,9 triliun pada 2027. Penyesuaian ini diproyeksikan memangkas rasio net gearing secara signifikan dari 180 persen menjadi sekitar 73 persen, level yang dinilai lebih sehat dan berkelanjutan.
Di luar perbaikan leverage, restrukturisasi ini juga berpotensi menghapus akumulasi rugi sebesar Rp3,9 triliun. Jika terealisasi, kondisi tersebut membuka kembali ruang bagi BWPT untuk membagikan dividen, yang sebelumnya terhambat oleh posisi ekuitas negatif.
“Dengan percepatan profitabilitas dan peluang kembalinya distribusi dividen, kami merekomendasikan BUY untuk BWPT dengan target harga Rp450 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 210 persen,” tulis Samuel Sekuritas pada Kamis (15/11/2026). Valuasi tersebut setara dengan EV/ha 2026 sebesar USD14.000, sejalan dengan rata-rata sektor perkebunan sawit.
Dari sisi operasional, BWPT memasuki fase peningkatan produktivitas jangka menengah hingga panjang. Perseroan menargetkan perbaikan profil usia tanaman melalui program penanaman dan replanting, sehingga rata-rata usia pohon dapat ditekan dari sekitar 18 tahun menjadi 15–16 tahun pada 2029.
Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tandan buah segar (TBS) sekaligus menjaga stabilitas tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER).
Selain itu, BWPT berencana memperluas kapasitas pengolahan pabrik Bangkirai serta membangun pabrik baru di Papua dan Kalimantan Timur. Langkah ini akan meningkatkan kapasitas milling menjadi 400 metrik ton per jam pada 2028, dari sekitar 370 metrik ton per jam pada 2025.
Keunggulan lain BWPT berada pada aspek keberlanjutan. Saat ini, empat dari tujuh pabrik perseroan telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dengan target penambahan satu pabrik bersertifikasi setiap tahun agar seluruh fasilitas memenuhi standar tersebut pada 2027.
Samuel Sekuritas menilai kepemilikan sertifikasi RSPO menempatkan BWPT pada posisi yang lebih strategis untuk mengakses pasar ekspor CPO premium. Di tengah pengetatan regulasi keberlanjutan global dan meningkatnya tuntutan rantai pasok yang dapat ditelusuri, keunggulan ESG ini dinilai berpotensi memperkuat stabilitas penjualan, daya lekat pelanggan, serta membuka ruang ekspansi valuasi.
Dari sisi makro, harga CPO dipandang memasuki fase keseimbangan baru pada level yang lebih tinggi. Program biodiesel nasional, bersamaan dengan ketatnya pasokan akibat penurunan produktivitas di negara produsen utama, terus menjadi penopang harga.
Rata-rata harga CPO pada 2025 diproyeksikan naik 1,6 persen secara tahunan menjadi MYR4.267 per ton, setelah mencatat lonjakan 10,1 persen pada 2024.
Penurunan yield global dipicu oleh penuaan tanaman dan lambatnya proses replanting, serta alih fungsi lahan di Malaysia. Sementara di Indonesia, keterbatasan penerbitan izin HGU baru mendorong biaya akuisisi lahan meningkat ke kisaran USD13.000–15.000 per hektare, dari sebelumnya USD5.000–8.000 per hektare.


