Perry Warjiyo Bongkar Jurus BI Jaga Rupiah, Suku Bunga Naik hingga Intervensi Valas
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan tujuh langkah kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Mulai dari intervensi pasar valas, kenaikan suku bunga menjadi 5,5%, menarik modal asing melalui SRBI dan SVBI, hingga memperluas transaksi rupiah-yuan.
Perry Warjiyo memaparkan tujuh kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah
Emitenhub.com - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memaparkan tujuh langkah kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam rapat Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).
Menurut Perry, fokus utama kebijakan moneter BI saat ini adalah menjaga stabilitas, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.
Langkah pertama yang ditempuh adalah melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri.
“Kami terus melakukan intervensi di pasar domestik maupun pasar luar negeri melalui tunai atau forward domestic non-delivery forward di dalam negeri maupun di luar negeri. Cadangan devisa kami jaga lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Langkah kedua dilakukan melalui kebijakan suku bunga. Perry menjelaskan Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5% sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Perry menjelaskan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5% dilakukan sebagai respons terhadap tren kenaikan suku bunga global sekaligus untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.
“Hari ini kita naikkan lagi 5,5%. Kami tidak suka menaikkan suku bunga tapi untuk bagaimana menarik investasi portofolio asing yang sedang di luar negeri suku bunga naik semuanya. Jadi kita penyesuaian sesuai mekanisme pasar,” kata Perry.
Langkah ketiga yang ditempuh Bank Indonesia adalah mendorong aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
“Nomor tiga juga meningkatkan aliran masuk modal asing melalui SRBI maupun SVBI untuk menarik inflow,” ujarnya.
Langkah keempat yang ditempuh Bank Indonesia adalah memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan tetap memadai.
Perry mengatakan pertumbuhan uang primer masih berada pada level yang kuat dan akan terus dijaga agar tetap tumbuh dua digit.
“Pertumbuhan uang primer selalu double digit terakhir itu 14,8 dan bulan-bulan ke depan selalu akan kita jaga double digit,” ujar Perry.
Sementara itu, langkah kelima dilakukan melalui pengetatan aturan pembelian dolar AS tanpa underlying di pasar domestik. Kebijakan yang mulai berlaku pada Juni 2026 tersebut membatasi pembelian maksimal sebesar USD25.000 per pelaku setiap bulan.
“Nomor lima adalah menurunkan batasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying yang berlaku mulai Juni adalah 25.000 per pelaku per bulan,” katanya.
Langkah keenam yang ditempuh Bank Indonesia adalah memperluas penggunaan transaksi valuta asing berbasis mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).
Perry menjelaskan transaksi tidak hanya dilakukan menggunakan pasangan rupiah dan dolar AS, tetapi juga rupiah dan yuan China untuk mendukung aktivitas perdagangan serta investasi.
“Rupiah-yuan sekarang sudah ditransaksikan di dalam negeri dengan meningkatnya transaksi yuan-rupiah untuk penyelesaian perdagangan dan investasi antara rupiah dengan China yang kita sebut local currency transaction,” jelas Perry.
Sementara itu, langkah ketujuh dilakukan melalui pengawasan terhadap perbankan dan korporasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengawasan tersebut bertujuan memastikan seluruh transaksi valuta asing memiliki underlying atau dasar transaksi yang jelas.
“Kami juga menerjunkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi, koordinasi dengan OJK untuk memastikan transaksi valas di perbankan itu adalah dengan underlying,” ujar Perry.
Perry menegaskan ketujuh langkah tersebut menjadi fokus kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.


