Market

Rekomendasi Saham BBRI Terbelah, Masih Layak Dikoleksi atau Tunggu Dulu?

Sejumlah sekuritas memperbarui rekomendasi saham BBRI dengan pandangan yang beragam, mulai dari add hingga underperform. Artikel ini mengulas target harga analis, tantangan kualitas kredit, serta katalis yang berpotensi menopang kinerja BBRI ke depan.

4 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Analisis rekomendasi saham BBRI dan target harga analis

Prospek saham bank Indonesia di tengah pemulihan sektor perbankan (Foto:Perseroan)

Emitenhub.com - Sejumlah perusahaan sekuritas memperbarui rekomendasi terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) pada awal periode 2026. Pembaruan ini mencerminkan evaluasi terbaru analis terhadap prospek emiten perbankan pelat merah tersebut.

Para analis cenderung mempertahankan rating saham BBRI, meski dengan pandangan yang bervariasi terkait potensi pergerakan harga. Mengacu pada data terminal Bloomberg, terdapat tiga rekomendasi terbaru yang berasal dari CGS International, Henan Putihrai Sekuritas, dan Macquarie.

CGS International, dalam pembaruan pada 5 Januari 2026, mempertahankan rekomendasi add untuk saham BBRI dengan target harga di level Rp4.900 per saham.

Pada hari yang sama, Henan Putihrai Sekuritas kembali mencakup saham BBRI dengan rekomendasi hold dan target harga Rp4.000 per saham. Sekuritas ini menilai ruang rerating saham BBRI masih relatif terbatas, seiring berlanjutnya proses pembersihan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), khususnya pada segmen mikro.

Dalam laporan Bloomberg, Henan Putihrai Sekuritas menyebutkan bahwa target harga Rp4.000 tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 10% dibandingkan dengan level harga sebelumnya.

Sementara itu, Macquarie mengambil sikap yang lebih berhati-hati dengan memberikan rekomendasi underperform untuk saham BBRI. Sekuritas ini menetapkan target harga Rp3.080 per saham, yang mencerminkan pandangan lebih konservatif terhadap prospek kinerja saham BBRI dibandingkan konsensus pasar.

Meski terdapat pandangan yang lebih konservatif, konsensus analis masih menunjukkan sentimen positif terhadap saham BBRI. Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas analis tetap memberikan rekomendasi beli dengan target harga konsensus 12 bulan di level Rp4.600,77 per saham.

Target konsensus tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 26,7% dibandingkan dengan harga saham BBRI pada penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp3.630 per saham. Selisih ini menunjukkan masih adanya ruang apresiasi harga menurut pandangan pasar secara agregat.

Dalam laporan sektoralnya, Henan Putihrai Sekuritas menetapkan peringkat netral untuk sektor perbankan. Sekuritas ini juga memilih BBCA, ARTO, dan BBNI sebagai saham unggulan (top picks), seiring ekspektasi pemulihan kinerja laba per saham (earning per share/EPS) yang didorong oleh kualitas aset dan kekuatan model bisnis masing-masing bank.

Tantangan BBRI dalam Aspek Kualitas Kredit

BBRI dan BMRI diinisiasi dengan pandangan netral karena ruang rerating dinilai masih terbatas. Penilaian tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan lanjutan untuk membersihkan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), dengan tekanan yang lebih terasa pada portofolio mikro BBRI.

James Stanley Widjaja, equity research analyst Henan Putihrai Sekuritas, menjelaskan bahwa peningkatan peringkat dari level saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi kedua bank. Menurutnya, BMRI masih perlu membangun kembali cadangan provisi, sementara BBRI harus melanjutkan upaya penyehatan kualitas kredit secara konsisten.

Meski menghadapi tantangan tersebut, fundamental BBRI dinilai tetap solid. Sebelumnya, Sarah Jane Mahmud, Senior Industry Analyst Bloomberg Intelligence, mengungkapkan bahwa Bank Rakyat Indonesia mencatatkan imbal hasil ekuitas rata-rata sekitar 20% dalam satu dekade terakhir, menjadikannya salah satu bank dengan tingkat profitabilitas tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, ia menilai perbankan BUMN tersebut masih berpotensi menghadapi sejumlah risiko yang dapat menahan pertumbuhan laba perseroan. Tantangan tersebut dinilai berpeluang memengaruhi kinerja bottom line dalam periode mendatang.

Dalam riset Bloomberg Intelligence, ia menyebutkan bahwa tekanan terhadap kinerja dapat meningkat dan berpotensi membatasi laju pertumbuhan laba hingga 2026. Risiko ini menjadi faktor yang perlu dicermati di tengah proses penyesuaian fundamental yang masih berlangsung.

Di sisi lain, jaringan pembiayaan mikro BBRI dinilai tetap memiliki kapasitas untuk mendorong ekspansi neraca dalam jangka panjang. Namun, terdapat potensi penurunan kualitas aset apabila masuknya produk murah dari China serta produk pertanian asal Amerika Serikat semakin menekan pelaku usaha kecil di dalam negeri.

Selain itu, kekhawatiran terkait tata kelola juga masih menjadi perhatian pasar, seiring pengambilalihan pengelolaan bank oleh Danantara Indonesia. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan tambahan yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap prospek BBRI.

Di sisi lain, ia juga memerinci sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja perseroan. Salah satu faktor utama adalah peluang peningkatan margin seiring biaya dana atau cost of fund yang lebih terkendali.

Ia menilai potensi pemulihan margin dapat terjadi apabila tren penurunan biaya pendanaan berlanjut, terutama dengan adanya ruang pelonggaran suku bunga lebih lanjut. Kondisi tersebut dinilai mampu membantu meredam tekanan terhadap laba BBRI dalam jangka menengah.

Iklan